Pencanangan Bebas ODF di Kecamatan Jetis

jambanTidak buang air besar sembarangan, adalah program Nasional yang terus bergulir, sebagai upaya untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan bermukim ditempat yang sehat pula merupakan program berkelanjutan yang senantiasa diupayakan untuk terwujudnya ODF di setiap permukiman. Upaya ini memerlukan dukungan dari berbagai fihak utamanya satuan kerja yang memiliki tugas dan fungsi memfasilitasi kesehatan masayarakat dan lingkungan, serta dukungan dari tokoh masyarakat di tiap – tiap permukiman.

Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Kecamatan Jetis, dan juga di Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo, serta berdasarkan fakta di lapangan, bahwa Kecamatan Jetis sudah mendekati angka 100 % bebas ODF. Untuk itulah Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo merencanakan agar Kecamatan Jetis sebagai pelopor di Kabupaten Ponorogo dalam hal bebas ODF. Sehubungan hal tersebut dukungan dari Kepala Desa serta lembaga – lembaga desa dan organisasi kemasyarakatan di masing-masing desa sangat diharapkan, agar program ini segera terwujud.

Untuk mewujudkan program tersebut, Puskesmas Kecamatan Jetis terus berupaya koordinasi dengan lintas sektor, dan dalam waktu dekat akan ada kunjungan koordinasi ke 14 desa yang ada di Kecamatan Jetis. Sehubungan hal tersebut Pemerintah Kecamatan akan melayangkan surat ke Pemerintah desa  yang di dalamnya tercantum jadwal kunjungan ke masing-masing desa. Dan dalam kunjungan koordinasi tersebut, diharapkan seluruh Perangkat, Ketua BPD LPMD dan Ketua RW/RT dapat hadir untuk duduk bersama membahas dan mencari solusi untuk menuntaskan program ODF.

Ketika Program ODF tersebut sudah tuntas, bukan berarti fihak pemerintah akan melepas dan membiarkan, tetapi justru sebaliknya akan terus diupayakan untuk pelestarian dan peningkatan dalam memfasilitasi lestarinya, untuk itu kepada Kepala Desa se Wilayah Kecamatan Jetis hendaknya memahami masalah ini, agar ke depan harapan dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo untuk menjadikan Kecamatan Jetis bebas ODF dapat terwujud.

Untuk lebih mendekatkan kepada pemahaman, berikut beberapa catatan yang dapat dijadikan rujukan dalam rangka upaya mewujudkan Kecamatan sebagai Kecamatan Bebas ODF

OPEN DEFECATION FREE

Open Defecation Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan, Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan rantai penularan ini harus dilakukan rekayasa pada akses ini. Agar usaha tersebut berhasil, akses masyarakat pada jamban (sehat) harus mencapai 100% pada seluruh komunitas.

Desa Kediri memiliki 160 KK lebih yang belum memiliki jamban atau WC yang memadai. Untuk itulah Desa kediri termasuk dalam program desa ODF. Program ini dimulai pada tahun 2015, termasuk dalam gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Satu komunitas/masyarakat dikatakan telah ODF jika :

1     Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban dan membuang tinja/kotoran bayi hanya ke jamban.
2    Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
3    Tidak ada bau tidak sedap akibat pembuangan tinja/kotoran manusia.
4    Ada peningkatan kualitas jamban yang ada supaya semua menuju jamban sehat.
5    Ada mekanisme monitoring peningkatan kualitas jamban.
6    Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian BAB di sembarang tempat.
7    Ada mekanisme monitoring umum yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat.
8    Di sekolah yang terdapat di komunitas tersebut, telah tersedia sarana jamban dan tempat cuci tangan (dengan sabun) yang dapat digunakan murid-murid pada jam sekolah.
9    Analisa kekuatan kelembagaan di Kabupaten menjadi sangat penting untuk menciptakan kelembagaan dan mekanisme pelaksanaan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan masyarakat ODF dapat tercapai.

Buang Air Besar di tangki septic, adalah buang air besar yang sehat dan dianjurkan oleh ahli kesehatan yaitu dengan membuang tinja di tangki septic yang digali di tanah dengan syarat-syarat tertentu. buang air besar di tangki septic juga digolongkan menjadi:

Buang Air Besar dengan jamban leher angsa, adalah buang air besar menggunakan jamban model leher angsa yang aman dan tidak menimbulkan penularan penyakit akibat tinja karena dengan model leher angsa ini maka tinja akan dibuang secara tertutup dan tidak kontak dengan manusia ataupun udara. Buang Air Besar dengan jamban plengsengan, adalah buang air besar dengan menggunakan jamban sederhana yang didesain mering sedemikian rupa sehinnga kotoran dapat jatuh menuju tangki septic setelah dikeluarkan. Tetapi tangki septiknya tidak berada langsung dibawah pengguna jamban.

Buang Air Besar dengan jamban model cemplung/cubluk, adalah buang air besar dengan menggunakan jamban yang tangki septiknya langsung berada dibawah jamban. Sehingga tinja yang keluar dapat langsung jatuh kedalam tangki septic. Jamban ini kurang sehat karena dapat menimbulkan kontak antara septic tank dengan menusia yang menggunakannya.
Buang Air Besar tidak di tangki septic atau tidak menggunakan jamban. Buang Air Besar tidak di tangki septic atau tidak dijamban ini adalah perilaku buang air besar yang tidak sehat. Karena dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Buang Air Besar tidak menggunakan jamban dikelompokkan sebagai berikut:
Buang Air Besar di sungai atau dilaut : Buang Air Besar di sungan atau dilaut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan teracuninya biota atau makhluk hidup yang berekosistem di daerah tersebut. Selain itu, buang air besar di sungai atau di laut dapat memicu penyebaran wabah penyakit yang dapat ditularkan melalui tinja.Buang Air Besar di sawah atau di kolam : Buang Air Besar di sawah atau kolam dapat menimbulkan keracunan pada padi karena urea yang panas dari tinja.

Hal ini akan menyebakan padi tidak tumbuh dengan baik dan dapat menimbulkan gagal panen.Buang Air Besar di pantai atau tanah terbuka, buang air besar di Pantai atau tanah terbuka dapat mengundang serangga seperti lalat, kecoa, kaki seribu, dsb yang dapat menyebarkan penyakit akibat tinja. Pembuangan tinja di tempat terbuka juga dapat menjadi serpencemaran udara sekitar dan mengganggu estetika lingkungan (Kusnoputranto, 2001).

Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto (studi World Bank, 2007). Selain itu, penyakit lain yang dapat ditimbulkan yaitu tifus, disentri, dan polio.Sementara menurut studi BHS terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian diare di Indonesia.

Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:

Tidak mencemari air

Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester. Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur. Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut.

Tidak mencemari tanah permukaan

Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan. Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.

Bebas dari serangga

Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah
Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya Lantai jamban harus selalu bersih dan kering Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup.

Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran Lantai jamban harus kedap air dan permukaan tidak licin. Pembersihan harus dilakukan secara periodic.

Aman digunakan oleh pemakainya

Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan batau atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lai yang terdapat di daerah setempat

Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

Lantai jamban rata dan miring kea rah saluran lubang kotoran
Jangan membuang plastic, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100

Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

Jamban harus berdinding dan berpintu. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.

Penyebab dari banyaknya warga desa kediri yang belum memiliki jamban adalah kemampuan ekonomi. Oleh karena itu, melalui program ODF diharapkan jumlah KK yang belum memiliki jamban akan berkurang. Akan tetapi jika hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah, maka permasalahan ini tidak akan tuntas seluruhnya. Maka dari itu, diharapkan warga desa Kediri bergotong royong untuk membangun WC dan sadar akan pentingnya sarana buang air besar.

Share :
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *