SEJARAH DESA COPER KECAMATAN JETIS

SEJARAH DESA COPER KECAMATAN JETIS
KONON MENURUT CERITA

Sejarah dan asal-usul nama dari desa Coper memang tidak dapat diungkap secara jelas karena para narasumber yang memahami dan mengalami proses tersusunnya desa Coper saat ini telah tiada. Namun, sejarah desa Coper dapat dihimpun dari cerita-cerita sesepuh atau orang yang dianggap ada sangkut pautnya dengan desa sesuai dengan pemahaman dan pengertian masing-masing.
Menurut cerita masyarakat setempat, nama Coper diambil dari kata cuo dan lèmpèr. Cuo adalah sejenis mangkok yang terbuat dari tanah liat dan lèmpèr adalah sejenis piring yang terbuat dari tanah liat. Kedua barang tersebut adalah tempat makan dari seorang laki-laki yang membabat pertama kali desa Coper yang disebutkan bernama Haji Ngarpiyah. Haji Ngarpiyah adalah menantu dari Kyai Ishaq. Kyai Ishaq adalah anak dari Kyai Ageng Hasan Besari pemimpin Pesantren Tegalsari yang merupakan pesantren besar di Ponorogo pada masa itu. Kyai Ishaq menyusul menantunya Haji Ngarpiyah untuk membabat desa Coper sehingga menjadi pemukiman seperti sekarang ini.

Ada pula yang mengatakan nama Coper berasal dari sebuah kalimat eco ing lèmpèr. Konon ceritanya Kyai Ishaq mempunyai 2 orang istri, salah satu di antaranya adalah putri dari Kanjeng Gading. Sewaktu masih pengantin baru, Kyai Ishaq dan istrinya selalu dikirimi makanan dari Kanjeng Gading melalui abdi kinasihnya. Makanan tersebut sambalnya selalu ditempatkan di lèmpèr. Pada suatu hari tempat sambal tersebut diganti, lalu Kyai Ishaq berkata; “Sambal itu sebenarnya lebih enak tetap ditempatkan di lèmpèr”, lalu abdi menjawab; “Econipun wonten lèmpèr Kyai?” Kyai menjawab; “Iya”. Setelah berpikir sejenak atas jawaban abdi kinasih tersebut di atas, maka Kyai Ishaq lalu berkata: “Kalau begitu melihat kata eco ing lèmpèr apabila besok tempat ini sudah ramai maka kami namakan desa Coper.

Di desa Coper terdapat sebuah masjid peninggalan Kyai Ishaq. Masjid tersebut saat ini bernama Masjid Al-Ishaq. Konon, masjid tersebut sebenarnya adalah Masjid Tegalsari pemberian dari Kyai Ageng Hasan Besari kepada anaknya Kyai Ishaq. Masjid ini dipindahkan dari Tegalsari ke desa Coper yang berjarak sekitar 5 km. Sebelum dipindahkan, Masjid Tegalsari dibangun kembali dan selesai dalam kurun waktu 8 tahun. Setelah Masjid Tegalsari selesai dibangun kembali, masjid yang lama dipindahkan dari desa Tegalsari ke desa Coper pada tahun 1750. Dan Masjid Tegalsari yang sekarang berada di desa Tegalsari adalah masjid Tegalsari yang baru.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.